Opini  

Merah Putih dan Jolly Roger

Penulis: Sutrisno Abadi Rompas (Ketua Bidang Politik dan Demokrasi Badko HMI Sulsel)

SULSELNEWS.id – Bulan agustus merupakan bulan yang disambut sukacita oleh seluruh masyarakat Indonesia, mungkin saya juga termasuk orang tersebut. Bagaimana tidak? Karna bulan ini merupakan bulan deklarasi kemerdekaan Republik tempat kita, bangsa Indonesia bermukim, meskipun sesekali saya masih bertanya” apakah kemerdekaan itu hanya bersifat temporal? Atau justru sesuatu yang seharusnya dinikmati setiap individu bangsa ini hingga akhir hayat.?

Siang hari saya sempat duduk di beranda rumah yang jauh dari keramaian, tempat dimana saya rasa bisa merayakan kemerdekaan, minimal masih bisa menghisap rokok kesukaan dan kopi yang yang diproduksi dari kebun sendiri sambil hahaha hihih melihat beberapa peristiwa aneh di negeri yang akan merayakan ulang tahunnya ini, baik skala regional maupun nasional.

Kebetulan tetangga-tetangga rumah satu persatu sudah mulai mengibarkan bendera merah putih, tentu saja sebagai ikhtiar untuk merayakan bulan kemerdekaan kali ini, melihat kibaran bendera itu, saya seperti mendapat stimulus untuk turut mengibarkan bendera merah putih.

Namun kali ini, selain memikirkan bendera merah putih, pikiran saya juga terkoneksi dengan bendera Jolly Roger salah satu bendera dalam serial manga One Piece yang sedang viral itu, hal ini juga menjadi semacam alasan mengapa tulisan ini saya buat. 

Jelang hari kemerdekaan kali ini jagad maya menjadi ramai lantaran pengibaran bendera Jolly Roger salah satu bendera yang terdapat dalam film One Piece. Bendera dengan latar hitam bergambar tengkorak dan tulang bersilang putih. Bahkan, dibeberapa titik mural One Piece bergambar tengkorak bajak laut sebagaimana simbol yang terdapat pada bendera Jolly Roger juga banyak bertebaran. 

Fenomena ini telah mendapat respon dari berbagai lapisan masyarakat,  fenomena Jolly Roger menjadikan sosial media serupa medan makna dimana masyarakat secara subjektif memiliki kebebasan untuk menginterpretasikan makna dari pengibaran bendera tersebut. Hal ini tentu tidak terlepas dari keberagaman paradigma yang dimiliki oleh masyarakat. 

Beberapa kelompok menganggap pengibaran bendera Jolly Roger sebagai representasi dari cita-cita, kebebasan, solidaritas, dan perlawanan terhadap tirani sebagaimana yang digambarkan dalam film One Piece dan sebagiannya lagi menganggap pengibaran bendera tersebut sebagai bagian dari budaya pop, hanya saja momennya bertepatan dengan bulan kemerdekaan Republik Indonesia. 

Jika mengacu pada tanggapan pertama maka fenomena ini telah menjadi medan makna antara dominasi dan resistensi. Lalu apakah pengibaran bendera Jolly Roger menghilangkan substansi hari kemerdekaan?, tentu saja tidak. Kita mungkin masih mengingat bagaimana Presiden ke 4 Indonesia, Gus Dur memberikan kelonggaran kepada Masyarakat papua untuk mengibarkan bendera Bintang kejora dengan syarat posisi pengibarannya tidak boleh lebih tinggi dari bendera merah putih, bahkan secara sederhana Gus Dur mengungkapkan kepada Wartawan bahwa bendera Bintang Kejora hanya bendera kultural warga Papua, soal kita memaknainya sebagai bendera politik, itu salah kita sendiri. Ungkapan ini tentu bukan untuk membenarkan tindakan separatis yang ada di Papua melainkan suatu upaya untuk mencintai Indonesia dari dalam.

Kendati fenomena pengibaran Jolly Roger ramai diperbincangkan menjelang HUT RI ke 80 dan bahkan memicu komentar dari para petinggi negara, simbol bendera Jolly Roger tentu tidak lebih besar dari bendera Merah Putih, bendera Jolly Roger tak lebih dari Imajinasi dari Eichiro Oda selaku pengarang manga One Piece, Sementara Indonesia dan Bendera Merah Putih merupakan Imajinasi Kolektif bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke sebagaimana yang diungkapkan oleh Benedict Anderson.

Dirgahayu Republik Indonesia ke 80……!!!.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *