Mashud Azikin
MAKSSAR, SULSEL.News – Upaya menghadirkan petani muda kini tidak lagi hanya digerakkan dari pedesaan. Di Makassar, kesadaran itu tumbuh melalui pengembangan Urban Farming dan Gerakan Tanami Tanata’ yang diprakarsai Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. Pertanian dipandang bukan lagi sebagai aktivitas berbasis lahan luas, tetapi sebagai inovasi kota yang ringkas, modern, dan mudah diakses masyarakat urban.
Secara nasional, sektor pertanian masih didominasi petani berusia lanjut. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan hanya 21,93% petani berada pada rentang usia 19–39 tahun, atau sekitar 6,18 juta orang. Penurunan jumlah petani di kelompok usia 25–34 tahun menegaskan perlunya strategi regenerasi yang lebih kreatif, termasuk melalui program berbasis ruang kota seperti di Makassar.
Kementerian Pertanian turut mendorong Program Petani Milenial yang menggabungkan teknologi dan wirausaha agribisnis. Dengan potensi pendapatan yang dapat mencapai 15–20 juta rupiah per bulan, pertanian modern dinilai mampu menjadi pilihan karier yang menjanjikan. Makassar melihat peluang ini dan menerapkannya dalam gerakan yang melibatkan langsung masyarakat di kawasan perkotaan.
Urban Farming: Wajah Baru Pertanian Kota
Urban Farming menjadi tonggak pertanian modern di Makassar. Kegiatan ini tidak sekadar menanam di lahan terbatas, tetapi membangun ketahanan pangan kota melalui pola vertikal, pemanfaatan pekarangan, hidroponik, hingga budidaya organik ramah lingkungan. Generasi muda yang selama ini jauh dari dunia pertanian kini memiliki akses untuk belajar dan berpraktik tanpa harus meninggalkan gaya hidup perkotaan.
Gerakan ini juga sejalan dengan karakter generasi muda yang memiliki minat tinggi pada kewirausahaan dan pengembangan diri. Urban Farming membuka peluang agripreneurship, mulai dari budidaya sayur organik, pemasaran digital, hingga bisnis nutrisi tanaman dan kuliner berbasis hasil tanam perkotaan.
Tanami Tanata’: Menghidupkan Ruang Kota dan Ruang Sosial
Gerakan Tanami Tanata’ hadir sebagai penggerak utama yang memperkuat pertanian kota. Program ini mendorong warga, komunitas, sekolah, hingga lorong kota untuk menjadikan ruang hidup mereka sebagai tempat produksi pangan. Tidak sekadar menanam pohon, gerakan ini membangun ekosistem hijau berbasis partisipasi masyarakat.
Generasi muda Makassar mengembangkan kreativitas melalui pengelolaan kebun lorong, vertical garden, pot hidroponik dari bahan daur ulang, hingga mini laboratorium tanaman di sekolah. Tanami Tanata’ membuktikan bahwa regenerasi petani bisa dimulai dari kota dan tumbuh dari skala kecil menuju sistem agribisnis modern.
Menjawab Tantangan dan Mengubah Stigma
Stigma bahwa pertanian adalah profesi berat dan kurang prestisius masih menjadi tantangan. Keterbatasan lahan, modal, dan akses teknologi juga kerap muncul sebagaimana dicatat berbagai lembaga pertanian. Namun Urban Farming dan Tanami Tanata’ mulai membuka jalan keluar: lahan kecil cukup untuk produksi, teknologi terjangkau, dan pemasaran digital memudahkan pengembangan usaha.
Makassar menawarkan model pertanian sebagai gaya hidup hijau—modern, kreatif, dan relevan bagi generasi muda.
Integrasi Minat Bisnis, Digital, dan Lingkungan
Ketertarikan anak muda pada dunia bisnis, pemasaran digital, dan pengembangan diri justru menjadi peluang bagi pertanian perkotaan. Urban Farming menyediakan lahan usaha, Tanami Tanata’ menyediakan ruang kreativitas ekologis, dan teknologi digital menjadi sarana promosi dan penjualan. Ketiganya membentuk ekosistem yang mendekatkan anak muda kembali ke sektor pangan.
Dengan pendekatan menyeluruh—menggabungkan keterampilan teknis, kewirausahaan, literasi digital, dan inovasi—Makassar berpotensi melahirkan generasi petani kota yang adaptif dan berkelanjutan.
Masa Depan Pertanian Dimulai dari Kota
Masa depan pertanian Indonesia tidak hanya bertumpu pada desa, tetapi juga pada kota-kota besar yang menggerakkan perubahan dari ruang terkecil. Urban Farming dan Tanami Tanata’ menjadi langkah konkret menjadikan pertanian sebagai gaya hidup modern, jalur karier kreatif, sekaligus peluang ekonomi baru.
Melibatkan generasi muda dalam ekosistem pertanian kota—dari lorong hingga ruang publik—membuktikan bahwa ketahanan pangan adalah gerakan sosial bersama. Regenerasi petani kini tumbuh dari ruang-ruang sederhana: halaman rumah, teras, lorong kota, bantaran sungai, hingga kebun komunitas. Dari ruang-ruang inilah masa depan ketahanan pangan mulai dibangun.
—
#ceritainspirasi
Disclaimer: Tulisan ini merupakan ulasan populer tentang fenomena industri dan bukan naskah akademik atau karya jurnalistik.












