Daerah  

MENGULIK ISU KEKERASAN DALAM PACARAN: APA YANG SEBENARNYA TERJADI?

Oleh: NHA

PANGKEP, SULSEL.News – Kekerasan dalam pacaran (KDP) masih menjadi paradoks dalam relasi yang idealnya bertumpu pada cinta, kepercayaan, dan rasa aman. Fenomena ini kembali mengemuka setelah mencuatnya sebuah kasus yang ditangani aparat kepolisian di Sulawesi Selatan pada 2025, tepatnya di salah satu kota yang disamarkan dengan inisial P. Kasus tersebut memperlihatkan bagaimana hubungan yang tampak wajar pada awalnya justru berakhir pada tindak kekerasan fisik serius terhadap perempuan.

Peristiwa bermula ketika seorang laki-laki berinisial A diduga menggadaikan sepeda motor milik pacarnya tanpa sepengetahuan sang pemilik. Pada tahap awal, A memberikan sejumlah uang kepada korban dengan dalih berasal dari penghasilan pribadinya. Korban tidak menaruh kecurigaan karena hubungan yang terjalin dilandasi rasa percaya penuh. Namun, situasi berubah ketika seorang rentenir mendatangi rumah korban untuk menagih pelunasan gadai yang telah jatuh tempo. Korban pun mengalami tekanan psikologis karena tidak mengetahui sama sekali bahwa kendaraannya telah dijadikan jaminan.

Setelah memperoleh penjelasan dari pihak rentenir, korban mendatangi A untuk meminta klarifikasi sekaligus menuntut pengembalian sepeda motor tersebut. Dalam pertemuan itu, A mengakui perbuatannya dan menyatakan ketidakmampuannya menebus kendaraan yang telah digadaikan. Korban kemudian meminta pertanggungjawaban berupa penggantian dengan nilai melebihi uang gadai. Permintaan tersebut tidak dipenuhi dan memicu pertengkaran sengit yang berujung pada kekerasan. A diduga memukuli korban menggunakan balok hingga menyebabkan luka serius pada wajah korban.

Kasus ini menegaskan bahwa kekerasan dalam pacaran tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia berakar pada relasi yang timpang, penyalahgunaan kepercayaan, serta ketergantungan emosional yang berlebihan. Banyak korban memulai hubungan dengan kepercayaan penuh, bahkan menjadikan pasangan sebagai pusat kehidupan. Ketika keputusan, rasa aman, dan arah hidup sepenuhnya diserahkan kepada orang lain, risiko kehilangan kendali atas diri sendiri pun meningkat.

Dalam konteks tersebut, cinta kerap dirayakan secara berlebihan hingga menumpulkan nalar kritis. Kebohongan, manipulasi, bahkan kekerasan sering dimaklumi atas nama perasaan. Padahal, cinta yang sehat tidak melukai, tidak mengancam, dan tidak merendahkan martabat. Saat kekerasan hadir, relasi itu tidak lagi dapat disebut cinta, melainkan hubungan yang berbahaya.

Peristiwa KDP ini menjadi pengingat pentingnya membangun kepercayaan yang disertai batasan tegas dan kesadaran akan nilai diri. Menyerahkan hidup sepenuhnya kepada pasangan bukanlah cerminan kedewasaan emosional, melainkan pintu menuju kerentanan. Tak jarang, pihak yang paling dipercaya justru menjadi sumber luka terdalam dan merusak kualitas hidup yang sebelumnya terasa indah.

Pada akhirnya, kekerasan dalam pacaran harus dipandang sebagai persoalan sosial yang serius, bukan sekadar konflik personal. Cinta memang kerap disebut buta, namun kebutaan itu tidak boleh menjerumuskan seseorang pada pilihan yang mengancam keselamatan diri. Relasi yang sehat adalah relasi yang saling menjaga, bukan saling menyakiti. Karena itu, setiap individu—terutama perempuan—perlu mengenali diri, menjaga kemandirian emosional, dan berani menolak hubungan yang menunjukkan tanda-tanda kekerasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *