Makassar, SULSELNEWS.id – Peredaran narkoba di Sulawesi Selatan semakin mengkhawatirkan. Kota Makassar, sebagai pusat aktivitas sosial dan pendidikan di wilayah timur Indonesia, kerap menjadi sasaran empuk peredaran gelap narkotika.
Ironisnya, lembaga yang seharusnya berdiri paling depan dalam perang melawan narkoba yakni Badan Narkotika Nasional (BNN) dinilai belum maksimal menjalankan perannya. Hal ini mendapat sorotan tajam dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.
“BNN tidak boleh hanya hadir saat kampanye atau seminar. Kami melihat pendekatan mereka masih elitis, jauh dari realitas di lapangan,” tegas Mursil Akhsam, Wakil Sekretaris Jenderal DEMA UIN Alauddin,.
“Sementara mahasiswa dan pemuda menjadi korban utama, program-program BNN cenderung normatif dan minim dampak jangka panjang.”
Alfian menyebut bahwa DEMA dan beberapa Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) telah aktif menginisiasi berbagai program edukatif dan preventif di kalangan pemuda.
Kegiatan seperti Sekolah Anti Narkoba dan forum diskusi lintas kampus telah berjalan setiap tahun, namun dukungan dari BNN dinilai masih minim.
“Kami bergerak sendiri, dengan sumber daya terbatas. BNN seharusnya melihat kami sebagai mitra strategis, bukan sekadar penonton,” lanjutnya.
Menurutnya, selama ini BNN cenderung lebih fokus pada aspek penindakan hukum ketimbang pendekatan pencegahan berbasis komunitas dan edukasi.
“Penindakan penting, tapi pencegahan jauh lebih strategis. Sayangnya, mereka belum benar-benar hadir di ruang-ruang preventif itu,” tambah Mursil.
“Kami ingin ruang partisipatif yang nyata. Kalau tidak, BNN hanya akan jadi institusi formalitas—berbicara besar, tapi minim aksi,” tutup Mursil.
Narasi ini menjadi peringatan sekaligus dorongan bahwa mahasiswa tidak tinggal diam. Dalam senyapnya negara, suara kampus akan terus menyala untuk mengawal generasi dari ancaman narkotika.












